Pages

Sejarah Ketapang, Singkat Cerita

Sejarah Ketapang adalah sejarah yang seiring sejalan dengan Naik dan Jatuhnya kuasa besar di tanah barat kalimantan ini, Kerajaan Tanjung Pura dan Kesultanan Matan.

Candi bercorak Hindu peninggalan Kerajaan Tanjung Pura di Seberang Ketapang besar atau di Benua Lama merupakan bukti bahwa di tepian Pawan telah berdiri peradaban maju dengan tata pemerintahan yang teratur. 

Wajar sebuah Kerajaan di aliran Sungai Ketapang saat itu berkembang pesat. Perairan Karimata pada kurun tersebut penuh dengan Lanun hingga para pelaut melajukan perahu mereka ke Kerajaan terdekat yang seluk beluk aliran muaranya terkenal rapat hingga menyusahkan para perompak. 

Selain itu juga para pedagang memerlukan tempat singgah dari amukan ombak angin barat yang sering kali menghempas perahu layar mereka. Hingga bisa dibayangkan bandar Ketapang menjadi bandar yang ramai. 

Karena itu Tanjungpura menarik hati Gajah Mada untuk menguasainya (Sumpah Palapa).

Pemakaman bergaya muslim menghadap ke barat bertarik 1410 M yang walau disebut Masyarakat Makam Keramat Tujuh dan Keramat Sembilan namun ternyata memiliki nisan yang lebih jumlahnya, menandakan Ketapang telah lama bersentuhan dengan Islam. 

Melihat dari bentuk serta bahan Nisannya yang sama, Peradaban Ketapang yang mungkin saat itu masih bernama Tanjung Pura atau mungkin Dondongan telah menjalin persekutuan dagang dengan Kesultanan Islam lainnya di Kepulauan Melayu ini. Samudera Pasai  terutama.

Pemakaman itu, berlawanan anggapan sementara peneliti, bagi kami adalah pemakaman muslim yang mukim lama di Ketapang yang bisa saja adalah pemimpinnya. Yang telah beragama Islam. 

Apalagi bila dikaji dari ‘pesan’ yang ditinggalkan dalam Inkripsinya; Semua Yang Bernyawa Pasti Mati dan Semuanya adalah fana semata. Bisa jadi, ini sebagai pengingat bagi penggantinya, agar tidak menyalahi aturan selama memerintah, karena telah berlalu raja – raja sebelum dirinya. Tapi itu baru sebatas perkiraan.

Sepanjang Aliran Pawan, terdapat tiga suku besar yang menyerap airnya dalam darah mereka, sebagai satu keturunan yang damai dalam ikatan alami purba berkait gelang benang dan kepuak di lengan mereka layaknya Tuk Bubut Bergelang Benang; Ada Suku Hulu, Suku Laut atau Dagang dan Suku Darat. Kini kita pahami sebagai Melayu dan Dayak. 

Hari ini Kerajaan Tanjung Pura dan Matan berada di Tanah Ketapang untuk menjamin kemakmuran peradaban sepanjang aliran pawan, Mulai dari Benua Lama hingga Mulia Kerta. Menjamin keberlangsungan budayanya dan mengayomi keragamannya.

Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar