Pages

Tanjung Pura, negeri dalam bayangan



Pada dasarnya, keberadaan Kerajaan Tanjung Pura di panggung sejarah rakyat Tanah Kayong baru dikenal setelah M. Yamin lewat peta sejarah nusantaranya menandai lokasinya di Ketapang. Sebelumnya, masyarakat dan administrasi pemerintahan hanya mengenal Kesultanan dan Kerajaan serta wilayah besar yang disebut Matan. Baik sebagai orang pesisir (niaga-Melayu) maupun orang Darat (Dayak).

Saat Muller mencatat, saat Raja Ali Haji menulis, saat Dewall dan Barth melaporkan, saat itu mereka hanya memuat sebuah silsilah yang disebut Silsilah Raja - raja Matan yang memang disusun oleh pihak Istana.

Karena saat itu yang mereka hadapi bukan Raja Kerajaan Tanjung Pura, melainkan Sultan/Panembahan dari Kesultanan Matan yang dalam kurun 1762 hingga 1874 berkedudukan di sebuah kampung yang disebut Negeri Tanjong Pura, desa Tanjung Pura saat ini.


Di abad 19, masa buku - buku itu ditulis, Kerajaan Tanjung Pura sebagai Kerajaan Besar belum dikaji dan bahkan mungkin belum disadari, kecuali oleh segelintir bangsawan Matan.

Pengkajian tentang Kerajaan Tanjung Pura mungkin baru dimulai setelah ditemukannya Kakawin Negara Kretagama di Lombok. Hampir 80 tahun setelah Muller menumpang perahu Mayor Tengku Akil masuk ke Kuala Kandang Kerbau menuju kampung Kedondong pada 1822.

Lalu penemuan - penemuan prasasti peninggalan zaman Hindu Budha menambah keingintahuan para kolonialis tentang lokasi berbagai kerajaan yang termuat di dalamnya. Kerajaan Tanjung Pura termasuk di dalam pengkajian itu, namanya berada diurutan kerajaan - kerajaan yang saat ini berada di Kalimantan Barat, karena itu Tanjung Pura diyakini merupakan nama Negara Kerajaan atau paling kurang wilayah yang merangkum pesisir barat pulau terbesar kedua di dunia itu.

Seperti cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi selama ini, Muller (datang 1822) hingga Barth (datang 1896) juga mencatat Kedatangan anak raja Jawa yang bernama Prabu Jaya (mereka menulisnya Prawi Djaya, Bra Wijaya dan anakradja) ke dalam kuala Kandang Kerbau.

Lantas sang Prabu Jaya mendirikan istana di Kertapura, ketika ditinggalkan (karena perpindahan Raja) dia disebut sebagai Kotta Lama. Muller mencatat perkataan sumbernya (bisa jadi dari rakyat atau bangsawan) bahwa negeri yang didirikan Prabu Jaya pada 1822 itu telah disebut 'Tembawang Lampat'.

Mungkin saja saat itu Kotta Lama memang telah menjadi kebun (tembawang). Namun bisa jadi juga Muller keliru mendengar. Mungkin sumbernya menyebut 'Benua Lambat'; Benua Lama, Negeri Baru saat ini.
 

Silsilah yang bermula dari Prabu Jaya hingga Jamaluddin sebagaimana yang dicatat Muller dan yang tercantum dalam kitab silsilah raja melayu dan bugis tak pernah disebut sebagai Silsilah Raja - Raja Tanjung Pura, tetapi Silsilah Raja - Raja Sukadana dan Matan. 

A post shared by Agus Kurniawan (@agusaka) on 

Kesimpulan sementara setidaknya setelah melihat dari tulisan - tulisan awal tentang silsilah kerajaan Matan, Prabu Jaya sang anak raja Jawa yang menurut legenda menikah dengan Putri Junjung Buih BUKAN-lah pendiri Kerajaan Tanjung Pura. Itupun andai Tanjung Pura ada. Dia 'hanya' pendiri dinasti baru yang memerintah ke atas wilayah Kerajaan Tanjung Pura lama. 


Prabu Jaya pemula dinasti Matan, pendiri Sukadana, yang kemudian membawa corak Jawa dalam adat, budaya dan tata pemerintahannya. Yang sebelumnya, mungkin, bercorak Melayu-Sriwijaya atau malah bercorak tempatan.

Corak Jawa tetap dipertahankan hingga masa Panembahan Matan di Mulia Kerta, Alhajj Gusti Muhammad Sabran (wafat 1908) yang dalam syair yang beliau tulis menyebut dirinya Kanjeng Panembahan. Prabu Jaya dicatat mendirikan Sukadana dan kemudian dimakamkan di sana.

Kelak, ketika Tanjung Pura dikaji, bentang kekuasaan Sukadana yang dicatat Inggris (1820) mulai dari Tanjung Sambar di selatan hingga Tanjung Datok di Utara menjadi gambaran kekuasaan Tanjung Pura. 

Padahal bisa jadi Tanjung Pura lebih besar atau malah lebih kecil dari gambaran itu, bukankah menurut catatan eropa pulau Borneo pernah hanya dibagi tiga kerajaan? Utara Milik Brunei, Selatan Milik Bandar Masih (Banjar) dan pesisir Barat hingga ke tengah milik Sukadana/Matan?

Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar