Kesultanan Matan yang menggantikan Kerajaan Tanjung Pura dan Sukadana, didirikan oleh Panembahan di Baruh (Wafat 1590) dan Panembahan di Giri Kusuma (wafat 1609) sebagai sarana mendakwahkan Islam di seluruh tanah kekuasaannya yang meliputi Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara saat ini, serta juga mempengaruhi sepertiga Pulau Kalimantan.
Gerakan Dakwah Kesultanan Matan ini terus dilakukan dalam lindungan payung Kesultanan Matan hingga entitas Kesultanan tersebut hilang karena penjajahan Belanda yang dimulai pada 1828 Masehi. Namun, para Raja dan Pangeran tetap mendakwahkan Islam, terutama pangeran - pangeran yang berada di hulu Ketapang. Termasuk Pangeran Muda Al Hajj Muhammad Said bin Sultan Zainuddin Kedua.
Alhajj Muhammad Said, Masyarakat menyebutnya Pangeran Sepuh, atau Gusti Muhammad Said atau Kai Haji Muhammad Said), sedang dalam laporan pegawai Belanda bernama Von Dewall (1845) beliau disebut Oetie Said dan oleh JPJ Barth dalam laporannya pada 1895 beliau ditulis Pangeran Muda Uti Hazeran. Beliau menghabiskan masa kecil dan remajanya pada 1832 hingga 1845 menuntut ilmu di Makkah bersama saudara tua nya Gusti Sabran.
Kedua Pangeran Matan tersebut mengambil jalur yang berbeda dalam pembelajaran Keislamannya. Hingga JPJ Barth pada 1896 mencatat Gusti Muhammad Sabran melaksanakan laku Tarikat Naqsabandiyah. Sabran kemudian menggantikan ayahnya menjadi Panembahan (Sultan) Matan pada 1847 dan wafat pada 1908. Panembahan Al Hajj Gusti Muhammad Sabran memindahkan pusat kerajaan dari Negeri Tanjung Pura di Hulu Sungai Pawan ke Mulia Kerta pada akhir abad 20.
Disaat yang sama, Haji Mohammad Said mempelajari Fiqih dan Hadits di Makkah dan saat pulang ke Matan bersamaan dengan wafatnya sang Ayah dan diangkatnya sang kakak menjadi Panembahan, beliau mengembangkan pandangan yang konservatif, berlawanan dengan abangnya catat Barth. Demikian pula dengan anak - anaknya serta pengikutnya. Kuat dalam pelaksanaan nilai keagamaan dan tegas dalam pelaksanaan syariat.
Pelabelan konservatif ini diberikan Pihak Belanda karena memang Pangeran Muda cenderung tak mau tunduk pada Penjajah. Islam dan penjajahan bagi Uti Hazeran serta pengikutnya tak mudah untuk diakurkan. Konservatif disini tentu saja dalam kerangka Syafiiyah Asyariyah untuk menjaga nilai fundamental yang dipertahankan. Nilai ini sama dengan nilai yang dibawa oleh Harimau Nan Salapan di Minangkabau dalam perang Paderi. Menolak bentuk sinkretisme namun tetap bisa toleran dengan penduduk yg berlainan kepercayaan.
Karakternya dalam pelaksanaan Keislaman yang konservatif dan menjadi penentang kebijakan Belanda yang mulai menyusahkan rakyat saat itu, tampak juga dilatar belakangi pengalaman beliau sebagai panglima perang dan menghadapi berbagai pertempuran saat terjadi perang saudara antara Kerajaan Matan dan Pangeran di Negeri Kendawangan. Beliau pada akhirnya berbesar hati untuk mengalah di tengah kemenangan karena lebih mementingkan kedamaian. Atas jasanya, Haji Muhammad Said diberikan tanah Lungguh (Warisan Kekuasaan Pangeran) di wilayah Sungai Pesaguan.
Haji Muhammad Said kemudian memilih sebuah tempat di tepi Pesaguan. Bersama dengan anak – anaknya Pangeran Muda memulai perkampungan baru bernama Tumbang Titi. Sejak saat itu, Haji Muhammad Said sang Pangeran Muda mundur dari pemerintahan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk memulai perkebunan rotan serta mengajar agama Islam, dari tanahnya di tepi Sungai Pesaguan itu.
Menurut Catatan JPJ Barth Perawakan Pangeran Muda Haji Muhammad Said mirip dengan Panembahan Sabran. Kurus, namun lebih tinggi. Jenggot dibiarkannya sedikit panjang berwarna kelabu oleh uban. Dia sering memakai jubah hajinya, sembari memilih hidup sederhana. Dalam penilaian JPJ Barth, controlleur Belanda yang sempat bertemu dengan beliau, Haji Muhammad Said bergaya necis dan bersih. JPJ Barth pun memuji pilihan beliau untuk pilihannya bertanam Rotan dan Kopi, dua komoditas yang diekspor hingga ke Singapura oleh kapal - kapal Ketapang.
Para penduduk berdatangan ke Tumbang Titi untuk belajar Keislaman. Termasuk Anak – anak Gusti Muhammad Sabran yang belajar keislaman kepada Haji Muhammad Said. Sebagaimana Haji Muhammad Said juga mengirim Uti Zakaria, anak pertamanya untuk menggantikannya sebagai Menteri Matan dan mengabdi pada Panembahan Sabran.
Di Tumbang Titi, catat Barth, ada delapan rumah pada 1893 itu. Diantaranya milik Daeng Amin, menantu yang sering mewakili beliau dalam urusan pemerintahan. Tumbang Titi kemudian menjadi daerah perdikan yang tidak lagi membayar pajak pada Pemerintah Kerajaan karena perannya sebagai pusat pengajaran Islam di bekas wilayah Kesultanan Matan.
Pangeran Muda mempunyai enam istri, namun tidak bermadu. Diakhir hidupnya beliau tinggal dengan istrinya yang ke enam, yang melahirkan Uti Usman, yang karena hanya sendiri dari ibunya, masyarakat memanggilnya Unggal, Uti Unggal. Walau sebenarnya, dia mempunyai Sembilan saudara sebapak.
Termasuk Uti Unggal atau Uti Usman, Pangeran Muda memiliki empat anak lelaki dan enam anak perempuan. Namun anak perempuan yang tercatat hanya yang menikah dengan Daeng Amin, Uti Madinah dan Uti Abdul Latif. Uti Usman, sebagai anak dari istrinya yang terakhir, pada 1893 ditulis baru berusia 12 tahun.
Haji Muhammad Said, karena sikap anti Belandanya, sempat dijemput paksa oleh pemerintah Belanda dan dibawa ke Pontianak pada 1895 dengan tuduhan mempersiapkan pemberontakan. Panembahan Sabran, Uti Zakaria yang sudah bergelar Pangeran Kusumajaya serta para pangeran lain menyusul ke Pontianak untuk membebaskannya. Selama 100 hari Panembahan di Pontianak, yang beliau ceritakan dalam bentuk syair. Syair itu dikenal dengan nama Syair Sultan Matan atau Syair Pangeran Syarif, naskahnya tersimpan di Perpustakaan Leiden Belanda.
Sikap dan pendirian beliau dalam menjalankan Syariat Islam dan menjaga keislaman pengikutnya mempengaruhi anak bungsunya; Uti Usman atau Uti Unggal dalam mengobarkan Perang Tumbang Titi pada 1914, yang secara khusus disebut dalam laporan Belanda karena alasan Keagamaan. Para pejuang dikumpulkan Uti Usman di Benteng Kedang, yang sekaligus menjadi pusat pengajaran keislaman sepeninggal ayahnya. Mereka berjuang hingga kemudian Uti Usman wafat pada 19 Juni 1914.
Selain dalam wujud perjuangan. Pengaruh Haji Muhammad Said juga mengalir lewat anaknya yang paling tua. Barth mencatat, Uti Zakaria mewarisi sikap konservatif ayahnya, namun bisa lebih moderat karena telah dibawa tinggal di Mulia Kerta. Islam corak Uti Zakaria ini kemudian berkembang dan menemukan momentumnya saat Saunan, cucu Gusti Sabran yang mendapat sentuhan Uti Zakaria naik menjadi Panembahan pada 1922. Panembahan Saunan mendirikan Madrasah Islamiyah Mataniyah yg banyak memproduksi ulama yang tersebar bukan hanya di Ketapang tapi juga ke wilayah lain di Kalimantan Barat serta Indonesia. Saunan sendiri sangat keras dalam pelaksanaan syariat Islam.
Beliau Wafat pada 16 Rabiul Akhir 1320 Hijriah bertepatan dengan 23 Juli 1902. Makamnya terletak di tengah kampung Tumbang Titi yang saat ini merupakan ibukota Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang. Makamnya masih terjaga dan dikunjungi para keturunan serta pengikutnya hingga saat ini. Bahkan dua tahun terakhir ini, penduduk Tumbang Titi memperingati Haulnya. Sayangnya, peninggalan beliau secara tertulis belum ditemui hingga saat ini dari para muridnya.
Sumber:
Barth, J.P.J. 1896. Overzicht der Afdeeling Soekadana. Deel L., 2e Stuk. Batavia : Albrecht & Co.
Dewall, H. von. 1862. Matan, Simpang, Soekadana, De Karimata-Eilanden en Koeboe. Batavia: Lange & co.
Dardi M. D. Has. 2002. Tanjungpura Dari Benua Lama Ke Muliakerta. Smart Educational Centre (SEC) dan Yayasan Sultan Muhammad Zainuddin I
Kurniawan, A. (2016, April 2). Gusti Muhammad Said Tumbang Titi, Sang Pangeran Penentang Penjajahan. diketapang.wordpress.com. https://diketapang.wordpress.com/2016/04/02/gusti-muhammad-said-tumbang-titi-sang-pangeran-penentang-penjajahan/
Mueller G. (1843). Proeve eener geschiedenis van een gedeelte der westkust van het eiland borneo. Batavia: Lange & co.
Wibowo, B., & Kurniawan, A. (2023). Pahlawan Daerah Kabupaten Ketapang. Sandu.
.jpg)


.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar