Katanya Ketapang baru dinamai demikian setelah seorang Punggawa di masa Panembahan Sabran (memerintah pada 1850-1908) sering bolak balik Ke pulau ini untuk mengamankan kuala sebelum Panembahan Pindah dari hulu.Punggawa ini, demikian kata, menambatkan perahunya ke pohon Tapang. Jadilah kata Ketapang. Apa Benar? Mungkin saja, karena memang sudah menjadi ingatan masal. Terutama bagi orang kampung Banjar sebagai kota punggawa terdahulu.
Namun ada fakta lain yang kita temukan dalam catatan sejarah.
Pertama yang harus kita pahami, secara Toponimi, Istilah Ketapang sendiri bukanlah nama unik yang hanya dipergunakan oleh Kota Ketapang kita saja. Ada namanya Teluk Ketapang, tempat meninggalnya Raja Haji Fi Sabilillah dalam Perang Riau (1874) di dekat Malaka. Ada pula Ketapang di Banyuwangi, Ketapang di Lampung dan Lain sebagainya. Dari fakta ini saja, permulaan nama Ketapang dari Pokok Tapang juga cukup meragukan.
Dalam catatan yang kita dapati, Apa yang kita kenal sebagai kota Ketapang hari ini bermula dari sebuah perkampungan kecil di tepian Sungai Ketapang. Mengikut sebuah peta pelayaran bangsa Eropa yang berada dalam koleksi Perpustakaan Nasional Singapura, berjudul A chart of Borneo Java and the Philippine islands nama kampung itu kampung Catapangen, Ketapang. Dan peta itu dikeluarkan tahun 1728, lebih dari 1 abad sebelum zaman Panembahan Sabran memindahkan kekuasaan dari Negeri Tanjungpura ke Mulia Kerta (1874).
Dan bisa jadi lebih tua dari itu, karena kitab Silsilah Raja Melayu dan Bugis yang disusun oleh Raja Ali Haji Kepulauan Riau mencatat sungai Ketapang sebagai jalur masuk kapal – kapal Opu Daeng Menambon lima bersaudara. Peristiwa pemberontakan Pangeran Agung kepada Sultan Zainuddin I di Indera Laya, yang diceritakan Raja Ali Haji dalam pembukaan kitabnya itu diperkirakan terjadi pada 1710.
Pada 1822, Muller mencatat ada dua kampung di sebelah kanan menghilir Sungai Ketapang; Kampung Begadong dan Kampung Ketapang. Isinya orang Melayu, ada juga orang Tionghua yang mengusahakan pertanian di pulau Ketapang kecil.
Muller mencatat cerita orang Ketapang tentang penamaan Ketapang itu sendiri. Sungai Ketapang disebut demikian, catat Muller, karena banyaknya Pohon Ketapang (Terminallia Katappa) yang berjejer di tepiannya. Ketapang dan Begadong mengalami kerusakan yang teruk pada serangan Hindia Belanda di bulan September 1828, dua kampung itu di bombardir armada Belanda dan Tengku Akil dengan meriam.
Penduduk meninggalkan Ketapang dan Begadong menjauh dari pertempuran, mereka kebanyakan membuka laman baru di Benuah Lambat hingga menjadi kampung Negeri Baharu, Desa Negeri Baru sekarang. Bukti berikutnya bahwa Ketapang telah berdiri jauh sebelum Panembahan Sabran pindah ke Mulia Kerta ada dalam penutup surat pengumuman yang ditandatangani Komandan Sipil dan Militer dari Afdeling Brussel, Sersan L.M Blok, ditulis:
“Katapan Kapada hari 26e Junij een duizend acht honderd drie en dertig” atau Ketapang, tanggal 26 Juni 1833.
Menandakan sang Komandan menulis surat pengumuman kepada ‘orang – orang Islam dan Kina (Cina) den Dajak yang berdiam di Brussel, Matan dan Simpang’ itu di Kampung Ketapang pada 1833.
Jauh setelah tahun – tahun pencatatan Ketapang itu barulah Panembahan Al Hajj Gusti Muhammad Sabran pada 11 Maret 1876 meresmikan Melia (Mulia) Kerta sebagai kota raja baru menggantikan Tanjung Pura. Yang didahului dengan keberadaan pemukiman Punggawa Haji Abbas.
Dari tanggal 11 Maret ini kita dapatkan tanggal hari jadi Kota Ketapang. Rapat paripurna DPRD Ketapang menjadikan tahun 1418 Masehi sebagai tahun kelahiran Ketapang dari temuan tulisan tahun nisan di Negeri baru (1340 Saka).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar