Tujuh tahun sebelum Siak Bahulun menjadi raja di Tegua Tanah Tarah kisah rakit buluh betung yang terdampar itu bermula. Tak sampai berhitung hari dan malam orang berperahu ke arah hulu dari negeri Siak Bahulun, menyusuri arus yang beriak - riak hingga mengarung riam di antara bebatuan hitam, di daerah Beginci begitu orang sekarang menyebutnya, di lereng gunung Sebayan terdapat sebuah negeri, Batu Bengaras namanya. Di negeri itulah asal muasal rakit betung yang terdampar di dermaga milik Siak Bahulun.
Batu Bengaras termasuk dalam kerajaan – kerajaan kesukuan di dalam wilayah Tanjung Pura yang berpusat di Pesisir muara batang Pawan.
Negeri Batu Bengaras didirikan oleh pemimpin perempuan bernama Ratu Mangkub. Ia memimpin Batu Bengaras dan menyatukan kampung - kampung di sekitarnya hingga menjadi salah satu Negeri kuat di wilayah Tanjung Pura. Hanya negeri nenek moyang Todung Rusi, istri Siak Bahulun, di Sungai Krio saja yang tidak mau bergabung.
Ratu Mangkub wafat digantikan anaknya dan diteruskan keturunannya. Hingga sampai keturunan Ratu Mangkub yang ke enam, namanya Ratu Teruna Menguning. Ia memiliki Seorang Puteri bernama Indra Menguning yang atas kehendak sang Ratu akan dijodohkan dengan anak Raja Tanjung Pura di hilir.
Namun sayang, Indera Menguning mencintai Indera Segara, sepupunya. Merekapun ingin menikah. Keinginan mereka mengundang bencana. Seluruh wilayah kerajaan Tanjung Pura menganut Hukum perpatih, yang menganggap anak dan keponakan adalah seperti saudara sekandung, tak boleh kawin. Kedua keturunan Ratu Mangkub itu-pun terpaksa terusir dari negeri Batu Bengaras.
Putera Indera Segara dan Puteri Indra Menguning sejak terusir dari Negeri Batu Bengaras berganti nama menjadi Bujang Bengkung dan Dara Dondang, keduanya diceritakan hidup di dalam hutan yang jauh dari masyarakat selama tujuh tahun dan memperoleh tujuh orang anak perempuan.
Ketika Hamil anak yang terakhir, Dara Dondang mengidam hendak makan hati seekor kera putih. Bujang Bengkung pun segera mengambil Sumpit dan parang untuk pergi berburu.
Di dalam hutan, terdapat sebuah pohon beringin besar, ke sanalah Bujang Bengkung menuju, ia tahu pada pohon rindang itulah si Kera Putih membuat sarang. Dengan mengendap – endap ia mendekati pohon itu, kebetulan sekali buruan Bujang Bengkung sedang duduk lengah di dahan yang rendah.
“Puh...” terdengar suara pelan dari mulut Bujang Bengkung meniup sumpit, segera saja anak sumpit yang telah diberi racun melesat dan mengenai si Kera Putih. Kera tua itu memandang pada Bujang Bengkung, darah mengucur dari tubuhnya, kemudian ia terjatuh dari dahan tempatnya. Bujang Bengkung segera mengejar.
Di tempat jatuhnya, Kera Putih itu telah dikelilingi kera - kera kecil, Bujang Bengkung tiba - tiba seperti mengerti apa yang dibicarakan oleh si Kera Putih yang sedang sekarat itu, katanya:
“Cucu - cucuku, bila manusia berladang padi, kalau ia menugal, ambillah benih padi itu dari lobangnya, kalian hamburkan saja atau kalian makan. Kalau padinya sudah berdaun, cabut dan patah - patahkan. Kalau telah berbuah, makan dan hambur - hamburkan.
Apa saja tanaman manusia, rusak - rusakkan dan luruh - luruhkan.” Lalu, Kera Putih itu menoleh pada Bujang Bengkung yang berdiri membatu, katanya kemudian;
“Wahai manusia, setelah ini kalian akan memiliki Raja yang baru, ketahuilah Adatnya Raja itu meminta persembahan. Setiap berkerja harus ada Ayam, telur, keribang serta labu berisi pundut pintaan, itu namanya menolong Raja.
“Bila kalian menuai padi, kalian harus mengantar pepeti kebaoran hasil tanah, namanya kembang tahun. Isinya Kembut, bakul, keladi, kunyit dan serai. Kembut itu kebaoran, Bakul itu pepeti, Keladi itu Tajau, kunyit itu permintaan, sedang serai itu Ulun (Hamba) yang banyak.
“Hukum Adat akan berlaku. Ketahuilah adat bersuami isteri; Bila seorang lelaki menjadikan ibunya atau adik perempuannya sebagai isteri, hendaklah kedua orang berlaku sumbang itu dihukum mati atau dikurung dalam bubu laras, diikat dengan tali besi, lantas mereka dihanyutkan ke air.
“Pada keduanya dibekali parang timah, bila salah seorang atau keduanya selamat, maka selamatlah, bila salah seorang atau keduanya tak selamat, maka demikianlah hukumannya.” Setelah berucap demikian, Sang Kera Putihpun mati, Bujang Bengkung segera mengambil hatinya untuk diserahkan pada Dara Dondang.
***
Kehamilan Dara Dondang telah dekat waktunya melahirkan, sementara itu sejak kembali dari hutan untuk mengambil hati kera putih, Dara Dondang sering mendapati Bujang Bengkung termenung sendirian di tangga huma nya.
Rupa - rupanya, perkataan Sang Kera Putih yang menjadi buah pikiran, Bujang Bengkung takut, anak keturunannya nanti yang akan merasakan bala bencana atas kesalahannya menikahi Dara Dondang.
Karena itu, untuk melindungi seluruh keturunan dari hukuman yang mungkin akan terjadi jika keduanya tidak melaksanakan hukum yang telah disebutkan oleh Sang Kera Putih, Bujang Bengkung berniat menjalankan hukuman mati itu, Dara Dondang pun setuju.
Pada hari yang ditentukan, Bujang Bengkung masuk ke bubu laras. Sementara itu, Dara Dondang dan enam anak perempuannya naik ke rakit yang dibuat Bujang Bengkung dari Bambu berukuran besar yang disebut Betung. Mereka sekeluarga kemudian menyerahkan nasibnya pada Duata Nan di Pucuk, pada arus deras anak Sungai Pawan, mereka menghanyutkan diri.
Bujang Bengkung tak mampu menyelamatkan dirinya. Sementara itu di atas rakit, Dara Dondang sakit perut hendak melahirkan. Ia dan keenam anaknya diombang - ambing riam deras dan terhempas ke bebatuan yang berjajar di tengah sungai. Dalam keadaan demikian, Dara Dondang melahirkan anaknya yang ketujuh, di atas rakit Buluh Betung. Selepas itu ia tak sadarkan diri. Kematian menghantui mereka.
Namun rupanya tak demikian kemauan Duata di atas tujuh petala langit. Rakit Buluh Betung Dara Dondang dan anak anak - anaknya dibimbing arus ke kampung Tegua Tanah Tarah. Tangis bayi yang baru dilahirkan Dara Dondang memancing perhatian penduduk yang kemudian menyelamatkan mereka.
Dara Dondang tak bisa diselamatkan, namun ketujuh putrinya diangkat anak oleh penguasa Tanjung Pura di Hulu Pawan, Raja Negeri Pupuk Tegua Tanah Tarah, Raja Ulu Aik Siak Bahulun.
Pada semua orang, Siak Bahulun memberitahukan bahwa ketujuh Putri angkatnya itu adalah anak yang ditemukan di dalam Buluh Betung.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar