Pages

Ketapang Kerajaan Tanjung Pura

Mari anggap saja kita tidak menemukan Candi Negeri Baru sebagai bukti utama adanya peradaban di Tepian Pawan hilir. Anggap saja, para kartografer mengalami kesalahan selama berabad - abad dalam mengidentifikasi lokasi Tanjung Pura. Anggap saja tak ada makam keramat 7 dan 9 (Abad 15 awal - pertengahan) sebagai bukti sahih adanya kehidupan bermasyarakat di Tepian Pawan Hilir. Anggap saja dongeng - dongeng lama tentang Kerajaan di hilir tak pernah ada.


Lalu kita misalnya percaya bahwa orang Jawa sudah mencapai pedalaman hingga mampu menuliskan tentang sebuah kerajaan bernama Tanjung Pura yang letaknya di hulu sekali sungai Pawan. Tapi mengapa kita masih bisa mengidentifikasi wilayah Kota Ketapang di hilir Pawan sebagai Pusat Kerajaan Tanjung Pura, alih - alih di hulunya?


Pertama, Tanjung Pura dalam Sejarah Kerajaan Melayu

Kalau kita percaya Raja Tanjung Pura Kuno bernama Sang Maniaka/Manika maka kita mesti percaya pada Kitab Hikayat Melayu atau Sulalatun Salatin. Sulalatus Salatin lah yang menuliskan tentang sejarah Sri Krishna Pandita dan Sang Maniaka. Nama Pertama adalah adik dari Sang Sapurba, keturunan Raja Suran di Gangga Negara. Sang Sapurba turun di Bukit Seguntang dan menikah dengan Wan Sendari anak Penguasa Palembang Demang Lebar Daun. Sang Sapurba diakui sebagai Nenek Moyang raja - raja Melayu, termasuk di Tanjung Pura, Sang Maniaka adalah anaknya yang dirajakan disini, setelah sebelumnya adiknya yang bernama Sri Krishna Pandita juga dirajakan ditempat yang sama. Kemungkinan Sang Maniaka menggantikan pamannya. Kalau mengakui Sang Maniaka sebagai raja Tanjung Pura, konsekuensi logisnya adalah mengakui Tanjung Pura sebagai kerajaan Melayu.

Lalu dimanakah letak Tanjung Pura? Tanjung Pura disebut-sebut dalam Sulalatus Salatin (Kitab Hikayat Melayu) sebagai satu dari tiga Pusat Pemerintahan (Pura) utama kepulauan Melayu. Palembang/Melayu di Barat, Tanjung Pura di timur dan Bintan lalu Singapura di utara. Tri Buana istilahnya. Lokasi dua dari tiga kota itu relatif berada di dekat laut. Tidak memerlukan berhari - hari untuk sampai ke pusat kota dari laut. Apa yang membuat kita meragu kalau Tanjung Pura juga berada di dekat laut?

Gelar Tri Buana yang disandang Sang Sapurba (dari Kerajaan Melayu Jambi atau Sriwijaya) hingga Tribuana Tungga Dewi (Majapahit) bisa jadi bermakna penguasa tiga wilayah yang membuatnya menjadi penguasa laut selat penting bernama Karimata. Sebuah laluan utama di masa rempah – rempah menjadi primadona perdagangan dunia.

Dimana Pusat Kerajaan Tanjung Pura?

Sesungguhnya tak semua sepakat akan Tanjung Pura berada di Ketapang, Kalimantan Barat saat ini. Sebagian ada yang menganggap Tanjung Pura dimaksud adalah Tanjung Pura di Langkat. Karena kedekatannya secara wilayah pelayaran dengan Palembang. 

Ada lagi yang menganggap Tanjung Pura ada di dekat wilayah Majapahit atau setidaknya berada di Jawa. Bagian barat tepatnya. Karena Sulalatus Salatin memuat seorang Raja Majapahit menyusul Sang Sapurba ke Tanjung Pura. Kalau lewat laut pasti lama. Begitu perkiraan mereka.

Dan memang dalam terjemahan bebas Bahasa Inggris versi John C Leyden dari Sulalatus Salatin yang berjudul Malay Annals pun disebut Sang Sapurba berlayar enam hari menuju selatan. Selatan Sumatera adalah Jawa, titik labuhnya berada di desa Tanjung Pura, Karawang.  

Masalahnya, kalimat ‘pelayaran enam hari ke selatan’ itu hanya ada di versi John C Leyden, yang bisa dimaknai merupakan kalimat tafsiran dari Leyden sendiri. Mengingat saat itu ia memang sedang bertugas di Batavia dan Tanjung Pura yang ia ketahui hanya yang berada di Karawang.

Kalaupun tempatnya berdasar Negara Krtagama, adalah Kalimantan, sebagian ahli malah mengidentikkan Tanjung Pura berada di Kalimantan Selatan, bukannya Ketapang. Kajian terbaik tentang lokasi Kerajaan Tanjung Pura ini pernah ditulis oleh Smith dari Universitas Adelaide. Dalam kajiannya, Smith meyakini Ketapang (secara keseluruhan) bukanlah Tanjung Pura, dan dia yakin adanya di aliran sungai Barito.

Lantas mengapa kemudian umum sekarang Ketapang yang disebut sebagai pusat Kerajaan Tanjung Pura?

Para Ahli Belanda masa kolonial akhir dan sebagian besar peneliti bersatu pendapat dengan M. Yamin yang mengidentikan Ketapang sebagai pusat kerajaan Tanjung Pura. Yang wilayahnya disesuaikan dengan wilayah kesultanan Sukadana, pada masa kejayaannya.

Selain karena ditemukannya Candi di tepian Sungai Pawan, juga adanya legenda rakyat yang menyatakan adanya pemukiman lama bernama Benua Lambat di Ketapang. Belum ada penjelasan yang lebih mapan selain bahwa hal tersebut telah dinyatakan sejak berdirinya Republik ini.

Di Ketapang juga ada pendapat baru yang menyatakan Tanjung Pura kuno tidak berada di hilir, karena jejak arkeologis juga ada di Hulu Pawan yang disebut Batu Butoh Sengkumang yang dinilai sebagai Lingga. Belum ada kajian yang memadai pada temuan menakjubkan itu, kajian terbaik dilakukan Ida Bagus Putu Prajna Yogi yang menyebut ada tulisan di badan diduga lingga tersebut yang beraksara pallawa muda atau era Majapahit (13-16M). Kami pernah berdiskusi dengan arkeolog mengenai prasati tersebut yang terbaca Ringkang, bermakna 'daripada', dari bahasa Jawa Kuno era Majapahit.

Kalau benar demikian, maka keberadaan batu tersebut bisa menjadi bukti adanya pengaruh Jawa di Hulu Pawan. Dan itu bisa jadi bukti pusat Tanjung Pura memang berada di hulu Pawan. Yang perlu kita diskusikan dengan kepala dingin dan ilmiah. Saya ingin menawarkan berbagai peta dari abad ke 15 untuk membantahnya. Juga keberadaannya bisa kita bandingkan dengan Temuan Candi Negeri Baru dan Nisan Muslim abad 15 awal yang juga sezaman dengan era majapahit.

Dimana temuan Negeri Baru lebih menunjukan adanya kota perdagangan yang hidup, sebagaimana dalam sumber Portugis disebut sebagai satu dari tiga pusat perdagangan Borneo; Brunei, Lawai dan Tanjung Pura. Bukti adanya makam muslim dan candi hindu menunjukkan heteroginitas masyarakatnya serta kualitas barang temuan di sungai seperti keramik. Serta yang paling utama, yang menunjukan Tanjung Pura Kuno masih terhubung dengan kerajaan - kerajaan Hindu Budha adalah bata merah yang menyebar di berbagai tempat di situs Benua Lama hingga Keramat Tujuh.

Nama Tanjung Pura dengan segala derivasinya, baru dimuat di peta eropa setelah Tome Pires menyebutnya dalam bukunya Summa Oriental yang ditulis di Malaka tahun 1515. Pires menyebutkan cerita orang Jawa bahwa orang - orang Tanjung Pura sudah dikenal di Jawa sejak abad 14. Mereka berdagang banyak hal, dan terutama pembuat kapal besar (Juncos atau Jung Jawa) serta penghasil kayu. Saya masih harus membayangkan bagaimana caranya orang Tanjung Pura Kuno menghilirkan Kapal besar melalui sungai pawan yang rimbun dan berkelok, serta di bagian hulu batu pagar kalau memang tidak berada di pesisir hilir pawan?

Demikian pula Cau Ju Kua, dalam catatan kepabeanannya pada 1225 (Abad 13) menuliskan Danrongwulo (dalam ejaan Giles), yang kemudian dipahami sebagai Tanjung Pura adalah daerah yang memiliki hasil pertanian, namun kebanyakan menghasilkan Sagu (makanan pokok masyarakat nusantara sebelum beras). Dalam penggambaran Cau Ju Kua, orang - orang asli Tanjung Pura sangat kuat, tangguh, berkulit gelap kecoklatan dan bertato. Khusus tradisi tato bisa kita lihat diwarisi oleh orang Dayak. Mereka suka membajak kapal pedagang, yang menjelaskan tak ada satupun catatan yang menyatakan orang eropa singgah di Tanjung Pura. Padahal Tanjung Pura digambarkan sebagai sebuah kota perdagangan yang di dekatnya, diluar dari benteng pertahanan kota, ada air tawar. Sebuah barang mewah bagi dunia pelayaran saat itu, mendapatkan sumber air tawar tak jauh dari laut, hingga harus disebut dalam penggambarannya.


Tanjung Pura dari Penyebutannya

Mari kita membahas dari sudut pandang warisan penyebutan nama Tanjung Pura itu sendiri, sebagaimana yang sudah saya bahas dalam bagian sebelumya. Tanjung Pura dipercaya mempunyai nama Sansekerta Bakula Pura sebagaimana yang tercantum dalam kakawin Negara Krtagama.

Bakula Pura disebut Negara Krtagama saat menerangkan wilayah – wilayah yang menghadap pada masa Prabu Kertanegara di Singhasari. Untuk era Wilwatikta, Prapanca menyebut Tanjung Negara dan Tanjung Pura. Keseluruhan ada Delapan kali kata Tanjung disebut; tiga untuk nama bunga, sisanya nama wilayah.

Ada pelajaran penting dari Pencatatan Nama Bakula Pura untuk sebutan wilayah Tanjung Pura di zaman Kertanegara (abad 13 awal). Penggunaan kata Bakula (Bahasa Sansekerta) merupakan penyebutan kenegaraan untuk Pohon Tanjung. 

Ini memberikan pengetahuan bagi kita bahwa kata Tanjung dari Tanjung Pura berasal dari nama jenis Pohon. Sebagaimana Kerajaan Medang dan Majapahit di Jawa serta Kerajaan Kandis di Sumatera, Tanjong juga selanjutnya Kedondong juga Ketapang di Kalimantan berasal dari nama Pohon. 

Ini sungguh berbeda dari tiga ‘calon’ Tanjung Pura lainnya, yang ketiganya merujuk pada Tanjung sebagai sebuah bentuk daratan yang menjorok keluar, lawan dari kata Teluk. Yang terbentuk dari kata Hujung. 

Hal ini diperkuat catatan Cau Ju Kua tentang Danrong Wuluo atau dibaca Tanjung Wuluo. Dan hampir semua catatan Tiongkok yang merujuk pada Tanjung Pura selalu menulis dengan konsonan O saat menyebut Tanjung dari Tanjung Pura; Danrong, Danjong, Dongzhong.

Demikian pula Tome Pires dalam catatan perjalanannya Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins ("Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina"), ia mencatat pula ada sebuah Kerajaan bawahan atau saya menyarankan untuk dimaknai sebagai ‘yang dipimpin anak dari’ Betara Tumapel yang disebut Tanjompura. Lagi – lagi huruf konsonan O.

Tanaman Tanjong dipilih sebagai nama Kerajaan mungkin karena banyaknya (seperti nama Ketapang), mungkin juga karena berharganya pohon itu bagi masyarakat baik secara ekonomi maupun keyakinan (Seperti Kedondong).

Penyebutan Tanjong oleh Sultan Jamaluddin dan Penulisan Bakula oleh Prapanca memiliki titik temu disini. Sultan Jamaluddin berhasil meyakinkan kawulanya untuk terus menyebut Tanjong Pura, bukannya Tanjung Pura, untuk menyebut kotaraja Matan yang baru pindah dari Kayong. Padahal ada nama wilayah di dekat Tanjong Pura yang disebut Tanjung Pasar (Tanjung dibaca tetap).

Ini menandakan Sultan Jamaluddin sadar sepenuhnya akan nama yang diambil. Bukan hanya berdasar mimpi (sebagaimana pengakuannya kepada Georg Muller yang bertamu di Istana Peristirahatan Sultan pada 1822) atau berdasar bentuk daratan kotaraja.

Bertahun – tahun setelah wafatnya Sultam Jamaluddin, kotaraja yang dibangun tetap disebut demikian sebagaimana dicatat dalam peta yang saya lampirkan ini. Bagaimana mungkin Sultan Jamaluddin bisa tahu, padahal saat ia berkuasa, kakawin Negara Krtagama belum ditemukan? 

Beliau wafat pada 1829/1830 menyusul kekalahan Matan dalam perang dengan Kolonial Belanda. Sedang Negara Krtgama baru dibahas pertama kali pada 1894 pada serangan KNIL di Lombok. Inilah pentingnya Sulalatus Salatin dan rahasia  yang terkandung dalam pelbagai hikayat yang tersebar di alam Melayu.

Maka kiranya sudah tepat bila dikatakan bahwa Ketapang merupakan pewaris langsung pusat kerajaan Tanjung Pura. Berdasar warisan kesadaran membahasakannya. Tapi dimana letak tepatnya? Saya kira, para pembaca bisa mendiskusikannya secara ilmiah dan kepala dingin.

Yang jelas yang bisa saya simpulkan, bahwa Tanjung Pura merupakan kerajaan pelabuhan dengan hasil pertanian serta sagu, orang - orangnya juga berjualan ke Jawa dan membangun Jung (Kapal Besar). Tinggalan Tanjung Pura masih bisa kita cari warisannya hingga saat ini, seperti kebiasan menato badan serta mejadi bajak laut (hal yang umum dilakukan orang niaga). Tinggalan arkeologisnya juga menyebar di seluruh wilayah Ketapang dan Sukadana, namun bila disebut bandar perdagangan, tentu saja Ketapang dan kemudian Sukadana tidak bisa dinomor duakan.

Tanjung Pura, sebagai kerajaan dan kota perdagangan memang memiliki sistem pemerintahan, namun jangan bayangkan sesolid saat ini. Kerajaan membawahi kerajaan lainnya yang lebih kecil, dengan sebutan Kepatihan, Kenjuruan, Kedemungan dan lain sebagainya. Pecahan - pecahan pun tentu saja terjadi, apalagi belum lancarnya arus kuasa sampai ke hulu. Hal ini menjadikan banyak cerita, banyak kisah, yang hidup mengenai Tanjung Pura di masyarakat kita.


Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar