Di ketapang ada apa?
Kabupaten Ketapang terletak di provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Wilayahnya meliputi daerah pesisir pantai dan hutan belantara. Ada lima aliran sungai, yang menjadi dasar bagi sosial budaya masyarakat Ketapang. Yang terbesar dan membentuk wajah geografis hingga persebaran masyarakat Ketapang adalah Sungai Pawan.
Di Ketapang, kita kaya dengan tinggalan sejarah.
Penanda kita Nisan di Negeri baru, yang tahun ini kita peringati tahun ke 603 nya. Tapi makam bersejarah di kota Ketapang tak cuma itu. Di kampung tengah, pusat kota Ketapang, nisan batu bercorak juga dapat kita temukan dengan mudah.
Kagumilah kebesaran masa lalu kita, dari kisah orang tua, nisan, prasasti, candi dan keramik yang ditemukan di batang Pawan. Temuan keramik dari ragam masa, tanda peradaban besar pernah tumbuh, dan terus berkembang sealir zaman.
Peradaban Sungai Pawan dan Ketapang hampir tak memerlukan literatur luar untuk menjelaskan dirinya sendiri. Cerita orang tua, kisah yang senantiasa didendangkan pada kita, sesungguhnya punya daya jelas pula pada runut waktu negeri ini. Kalaupun kita menggunakan literatur luar, tak lebih sebagai konfirmasi, tak mengatasi sumber lokal kita.
Kampung Lama yang sejak mula peradaban telah pula bertumbuh. Kita mengenal Tuk Upui dan Tuk Bubut di Natai Kemuning. Kita mengenal Raja Ulu Aik, Siak Baulun Todung Rosi, Penguasa Tujuh Tangga Tanah (Pupuk Tegua Tanah Tarah) di hulu Pawan.
Kita mengenal Patih Rangga Sentap, juga Ba-pateh Sarassa di Danau Belabuh Gending. Kita juga mengenal Demung Juru dan Patih Inte, serta Penunggu Sengkuler. Yang di tiap kisah itu, kita mendapati sisa - sisa peradaban tua.
Tanjung Pura memudar, namun peradabannya tak hapus. Dari Istana Kertapura di Benua Lambat, Prabu Jaya memang membangun Sukadana.
Kota itu awalnya sebagai istana peranginan (peristirahatan), dan negara bawahan yang dihadiahkan bagi Yuwaraja Beparung. Lalu Prabu Jaya memilihnya sebagai tanah pemakaman, lantas menjadi peladangan di era Beparung. Di zaman Karang Tunjung, cucu Prabu jaya, Sukadana menjadi pusat Kerajaan. Namun Prabu Jaya juga meninggalkan bibit kerajaan Kedondong di Sungai Pawan.
Awalnya kita mengira Puake Kedondong hanya cerita pengantar tidur. Nyatanya Kedondong juga ditera dalam peta - peta awal pelayaran eropa. Di tepi kiri Pawan.
Nyatanya, cerita Kedondong dibawa puak Boyan Kayong hingga ke Utara Borneo. Nyatanya nama Kedondong, dalam nama lain juga disebut sebagai kota perdagangan akhir Kesultanan Matan pengganti kota perdagangan Sukadana, setelah kota itu ditutup.
Ada legenda tentang Sungai Pawan, yang menceritakan bagaimana asal mula sungai terpanjang kedua di Kalimantan Barat itu terbentuk. Diceritakan, pada mulanya ada sebuah Pohon Kedondong Raksasa yang ketinggian dan kerimbunannya menyusahkan masyarakat tanah kayong.
Lalu dengan petunjuk dari Penguasa Alam, Seorang Raja bernama Sang Ratu (panggilan Raja di zaman itu) Ayer Mala berhasil menumbangkannya, dengan dibantu oleh 7 wanita hamil pertama (bungas) dan bersenjatakan Kapak Beliung Timah berikat batang padi. Kedondong Raksasa itu tumbang, dan menjadi Sungai Pawan serta sungai lainnya serta pulau Ketapang.
Dari dongeng itu, di ketapang kita mendapati akar budaya masyarakatnya yang didasari sungai, hutan dan laut serta kaya dengan lahan pertanian juga pertambangan, untuk kemajuan masyarakatnya yang juga beragam.
Kita tak perlu mengaku tua dan minta dituakan, kita hanya perlu mendalami dengan jujur dan hikmat sejarah kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar