Oleh: Agus Kurniawan
Ada masanya, nama Tanjung Pura tidak disebut - sebut lagi, baik dalam catatan Eropa, Arab maupun Tiongkok. Beratus tahun lamanya, terhitung sejak menghilangnya Nama Tanjung Pura dari peta peta eropa di pertengahan abad 17. Seiring semakin besarnya nama Sukadana kemudian Matan di dalam Peta.
Namanya hanya ada dalam Kitab Sulalatus Salatin. Tak ada yang mau menjelaskan dimana posisinya. Orang lebih kenal Sukadana dan selanjutnya Matan sebagai nama Kerajaan. Ini wajar sebagaimana orang lebih kenal Singhasari (kota raja zaman Kertanegara) dibanding Tumapel.
Hingga naik menjadi Sultanlah seorang Pangeran negeri Matan. Dia mengalahkan saudara tirinya dalam perebutan tahta. Padahal saudaranya itulah yang lebih disenangi sang ayah untuk menjadi pengganti.
Pangeran Ratu Gusti Asma (dalan tulisan lain ditulis Arma) naik tahta dengan gelar Sultan Muhammad Jamaluddin. Bermodal hasil penjualan dari hasil penambangan Intan di Landak. Dia mengumpulkan bantuan dari Karimata dan Simpang dalam misi perebutan tahta. Orang - orang Bugis dan Brunei dikumpulkan di muara.
Di dukung pembantu utamanya; Pangeran Keraton, yang juga iparnya, dia berhasil menyingkirkan Pangeran Mangkurat dalam perebutan Intan Dano Raja. Lambang Legasi Kesultanan Matan.
Pangeran Keraton, adalah pangeran Ratu (calon raja) Simpang. Negeri Kedua setelah negeri Sultan di Kayong dalam Kesultanan Matan. Usianya lebih tua dari Pangeran Ratu Gusti Asma. Setelah menjadi Sultan, Jamaluddin berkeinginan menegakkan kembali Kesultanan Matan.
Bersama Pangeran Keraton, Sultan Jamaluddin sering melakukan ekspedisi ke kerajaan - kerajaan yang pernah berada di bawah pengaruh Matan. Di Sekadau keduanya menikah dengan Putri per Abangan di sana.
Selepas menikah, keduanya mendengar berita duka. Pada 1814 itu Ayah Pangeran Keraton, pendiri dan Raja Simpang pertama; Pangeran Ratu Kasoema Ningrat bin Pangeran Adipati Matan bin Sultan Zainuddin bin Pangeran Muda Buyut Kesuma Matan bin Sultan Syafiuddin telah mangkat.
Seusai memakamkan sang paman. Sultan Jamaluddin melantik Pangeran Keraton Uti Mahmud sebagai raja Simpang. Sultan Jamaluddin menganugerahkan gelar Panembahan Suria Ningrat kepada sepupunya itu. Sebagai tanda terima kasih.
Selain melakukan banyak Ekspedisi keluar. Sultan Jamaluddin juga melakukan hal penting di dalam negeri Matan.
Ditinggalkannya Istana warisan Almarhum ayahnya, Sultan Kamaludin Indralaya, di Sejenguk Kartapura, menghilir rakit hingga sampai ke Batupura yang kemudian diubahnya menjadi Tanjong Pura.
Nama Tanjong Pura segera dicatat dan direken. Merujuk pada peta Belanda abad 19 kita bisa tarik kesimpulan Sultan Muhammad Jamaludin bukan sembarangan memberi nama kota rajanya.
Belanda menulis nama kotarajanya Tandjong Poera, bukan Tandjoeng Poera. Berarti Sang Sultan yang digelari rakyatnya Sultan Adibai Dua Isteri Bedirie—karena ia memiliki dua Ratu—menyebut kotarajanya dengan Nama Tanjong (dengan O) bukan dengan Tanjung (dengan U).
Adakah bedanya? Bagi pembawa bahasa Melayu Kayong, mestinya sadar akan beda ini.
Karena Tanjong dan Tanjung ini walau sekarang sering ditulis sama (homograf) dan akibatnya disuarakan sama (homofon) namun hakikatnya ada perbedaan secara makna (tidak homonim).
Bila disebut 'Tanjung' maka orang Melayu akan segera teringat daratan menjorok ke depan yang biasanya berlawanan dan atau terletak setelah teluk/telok. Sedang bila disebut Tanjong, orang Kayong akan merujuk pada 'Pokok Tanjong'.
Lantas apa pentingnya? Ternyata Sultan Jamaluddin telah paham, karena kemungkinan ada peran guru kerajaan yg mengajari kitab Sulalatus Salatin.
Atau memang sudah menjadi pengetahuan umum di zaman itu, bahwa kerajaan Tanjung Pura yang disebut dalam hikayat melayu memang ada dalam wilayahnya.

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar