Pages

Siak Bahulun

Disclaimer:

Kisah ini merupakan versi tersendiri dari Kisah Siak Bahulun dalam versi manapun. Versi yang saya kemas ini Tidak untuk dipergunakan sebagai basis kajian sejarah.

Sungai Pawan adalah sungai yang terdapat di pesisir barat pulau Kalimantan. Sungainya berkelok – kelok, memanjang dari ekor yang ada di tengah pulau Kalimantan hingga ke mulut yang berada di laut Karimata.



Ada seorang Raja yang namanya melegenda di sepanjang aliran Sungai Pawan itu, ia bernama Siak Bahulun. Dalam bahasa Melayu Tua, Siak Bahulun bermakna Orang Mulia yang memperhamba rakyatnya begitu kata sebagian orang.

Sementara yang lain berkata, Siak Bahulun merupakan penerus Kerajaan Tanjung Pura, ayahnya bernama Sang Maniaka Putra Sang Sapurba dari Kerajaan Melayu Sriwijaya.

Sang Maniaka menikah dengan anak pamannya. Pamannya itu bernama, Sri Krisna Pandita yang dirajakan di wilayah Tanjung Pura menggantikan Sri Paludhatani yang telah kembali ke Gangga Negara.

Sang Maniaka (Manika) beranak tiga, dua lelaki, seorang perempuan. Yang tua bernama Perlan Langu, menjadi Betara di salah satu negeri di Majapahit. Yang perempuan menikah dengan seorang pendatang bernama Rangga (Raja) Sentap. Sedang yang terakhir adalah pewaris tahta Tanjung Pura, Sang Siak Bahulun.

Siak Bahulun beristrikan Todung Rusi, seorang Putri dari negeri hulu Sungai Pawan. Ia juga ingin dinikahkan kepada Putri Batu Bengaras, sayang, putri itu melakukan kesalahan di kerajaan ibunya yang tak bisa diampuni.



Siak Bahulun tidak suka tinggal di Istana Tanjung Pura. Karena itu dia membawa 66 pasang suami istri memulai tradisi ladang berpindah mengikuti aliran Pawan. Dalam masa perladangan itu, Siak meninggalkan adat istiadat Kerajaan, dan menjadi sama dengan para pengikutnya. Istana ditinggalkannya pada Rangga Sentap.

Bertahun – tahun Siak dan Putri Todung Rusi pindah dari satu laman ke laman yang lain, namun pengikutnya yang berjumlah 66 pasang suami istri itu belum juga bertambah. Padahal Siak ingin agar pengikutnya bertambah ramai dengan hadirnya generasi penerus. 

Akhirnya perladangan mereka sampai ke daerah asal Putri Todung Rusi. Atas saran para pengawalnya, Siak Bahulun memutuskan untuk mulai menetap dan membangun kampung sendiri. 

Namun keputusan ini mendapat penentangan dari para Ulun; 

“Kita sudah enak berpindah – pindah, apa yang kita rasa, Siak dan istri pun juga merasa. Kita saling tolong dalam kesusahan, saling membagi kala memperoleh kesenangan” Kata salah seorang pengikut yang masih muda. 

“Ya, betul itu!” sahut pengikutnya yang lebih tua, “Namun jika kita berkampung, kampung berkampung menjadi negeri, negeri membesar menjadi kerajaan. Kerajaan perlukan Raja, Siak akan menjadi sebenar Raja. Raja perlukan adat, adat perlukan pintaan dan pepeti. Hilang tolong menolong menjadi persembahan. Kita dan anak turunan kita akan diperhulun, dibuat hamba” lanjut pengikut tua itu. 

“Kalau begitu lebih baik kita pergi” seorang pengikut dari golongan perempuan memberikan kesimpulan pertemuan di tepian sungai Krio itu.

Hasil pertemuan para pengikutnya sampai juga ke telinga Siak. Bagi seorang pemimpin, di masa itu, hilangnya pengikut akan mengurangi kewibawaan. Karena itu Siak murka atas keinginan para pengikutnya itu, padahal keinginannya berkampung bukan hendak menjadi Raja, tapi agar pengikutnya mendapat keturunan, hingga kelompoknya menjadi besar.



Namun Siak tak kurang akal, ia meminta kepada para pengawalnya untuk menyebarkan berita bahwa Siak akan mengizinkan mereka pergi setelah selesai membangun rumah untuk Siak serta Putri Todung Rusi tinggali. 

Demi mendengar berita itu, para pengikut Siak semangat berkerja membangun rumah panjang untuk Sang Raja. Di sekeliling rumah panjang itu Siak meminta kepada pengikutnya untuk ditanamkan tebu hitam, tebu ulat, tebu bengkarung, pisang mengkaran, pisang rungkang, pisang emas, keladi hitam, kunyit dan serai. Sebagai tempat berteduh, Siak juga meminta kepada pengikutnya untuk membangun huma sendiri – sendiri. 

Semua permintaan itu dituruti oleh para pengikut, termasuk ketika Siak menunjuk sebuah pohon besar, pohon itu yang paling besar dari seluruh pohon di tepian sungai Pawan hingga sungai Krio. Dari pohon itu, Siak minta dibuatkan tongkat kecil, sekilan jemari ukurannya. 

Berbulan – bulan sebagian pengikut Siak membangun rumah, baik Rumah untuk Siak maupun untuk rumah mereka sendiri. Sementara yang lain juga sibuk berkerja untuk membuat tongkat kecil pesanan Siak. Sisanya, termasuk para pengikut yang perempuan membuka ladang sebagai bekalan makanan. 

Tanpa sadar, mereka telah hidup berkampung selama hampir setahun. Di pondok kecil yang mereka bangun, para perempuan mulai mengandung dan tak lama kemudian melahirkan anak. Sementara itu Rumah dan tongkat kecil sekilan jemari telah selesai mereka buat. 

Siak dan Putri Todung Rusi teramat gembira melihat hasil kerja para pengikutnya. Tongkat kecil sekilan jemari disimpannya dengan rapi dalam bokor emas yang dibungkus kain kuning. 

“Siak rupanya begitu menghargai kerja keras kita” kata seorang pengikut bernama Perungkang kepada temannya. 

“Ya nampaknya begitu kawanku Perungkang, namun sayang sekali, setelah ini kita akan meninggalkannya setelah musim panen ini” sahut sang teman. 

“Nampaknya saya akan pergi pada musim panen tahun depan” kata Perungkang. 

“Mengapa?” tanya temannya lagi. 

“Istriku baru saja melahirkan, musim panen ini anakku belum siap pergi jauh, tunggulah hingga musim panen berikutnya” jawab Perungkang. 

“Ah iya, aku lupa, kalau begitu kita akan berpisah, engkau akan bersama – sama dengan teman lain yang juga telah beranak di peladangan kita sekarang ini.” temannya mengakhiri percakapan mereka. 

Selepas seluruh pekerjaan selesai, Siak dan Putri Todung Rusi mengajak para pengikutnya untuk mempersembahkan rasa terima kasih kepada Sang Hyang Duata Nan Di Pucuk yang telah memberikan keberkatan pada pekerjaan mereka. Mereka mengadakan pesta di tengah kampung yang baru mereka bangun. 

Bokor emas yang dibungkus kain kuning dikeluarkan dari rumah Siak, sebatang kayu kecil sekilan jemari dikeluarkan. Para pengikut yang ikut bertugas membuat kayu kecil itu tak henti memperhatikan akan digunakan untuk apa hasil pekerjaan mereka. 

Siak berhati – hati memegang kayu kecil sekilan jemari itu, lantas dihunusnya pisau kecil dari pinggangnya, di rautnya kayu kecil itu hingga ujungnya menjadi runcing. Lalu dipergunakannya ujung yang runcing itu sebagai tusuk pembersih sisa – sisa makanan di sela giginya. Tongkat kecil sekilan jemari yang berbulan diusahakan para pengikutnya itu ternyata dibuat tak lebih sebagai tusuk gigi saja. 

“Aku akan membunuh Raja itu” kata seorang pengikut  dengan nada gusar. 

“kami akan ikut membantu” kata yang lain. 

“Bagaimana denganmu Perungkang?” tanya seseorang pada Perungkang yang berdiri di tepi unggun. 

“Jangan tanya tuan Mambang Perungkang, ia sekarang jadi Abdi Siak, pelindung sejatinya” sindir teman Perungkang yang beberapa waktu lalu menemaninya menyerahkan tongkat kecil sekilan jemari itu. 

“Hahaha... Tuan Mambang Perungkang sudah menjadi pengecut, padahal Siak seakan telah berkata bahwa pekerjaan kita yang membangunkannya rumah dan membuatkannya tongkat kecil dari pohon besar itu tiada artinya.” Pengikut yang berjanji akan membunuh Siak berkata tajam pada Perungkang. 

“Kalian lebih baik bubar dan kembali ke huma kalian masing – masing. Kalau kalian masih berniat membunuh Raja, kalian harus berhadapan dengan saya.” Kata Perungkang yang membuat diam teman – temannya, Mambang Perungkang adalah teman mereka yang paling sakti. 

Malam itu Siak dan Putri Todung Rusi tertidur pulas selepas pesta, Mambang Parungkang meminta kepada Ki Juru Pawang dan Nek Dukun untuk menjaga mereka. Sedang Mambang Parungkang mengikuti teman – temannya, dia takut kemarahan mereka belum hilang. 



Para pengikut yang sedang marah itu ternyata menuju peladangan milik Siak di hulu kampung. Mereka menyulut api di ladang yang telah siap panen itu. Api membesar dengan cepat, mereka pun pergi. 

Tanpa mereka ketahui, sepeninggal mereka Mambang Perungkang menggunakan sihirnya untuk memanggil Ikan Tempala, Kemangsa, Baung Pelangi yang berukuran raksasa. Ikan – ikan itu mengibaskan ekor dan siripnya ke permukaan sungai, air menyembur ke udara,  dedaunan bergoyang mengarahkan air itu menjadi laksana hujan ke ladang yang terbakar. Apipun padam. 

Esoknya, Siak dan Putri Todung Rusi pergi hendak memanen ladangnya. Mereka berjalan diiringkan Mambang Perungkang, Ki Pawang dan Nek Dukun serta para pengikut yang malam tadi telah membakar peladangan. 

Betapa terkejutnya para pembakar ladang, peladangan Siak hanya terbakar sedikit. Sedang Siak yang telah tahu kejadiannya dari laporan Mambang Parungkang, langsung memerintahkan untuk menghadapkan semua pengikut kepadanya. 

“Ampuni kami tuan Raja, kami telah bersalah hendak membakar ladang tuan...” mohon seorang perwakilan para pengikut, permohonannya diikuti oleh pengikut lain, perempuan dan lelaki. 

“Aku senang dengan keberanian dan kejujuran kalian, namun apa kata orang di negeri – negeri dalam kerajaan Tanjung Pura ini jika Siak tak menjatuhi hukuman pada orang yang hendak membakar ladangnya?” Siak memandang kepada para pengikutnya yang masih bersujud menunggu hukuman. 

“Namun aku juga kasihan dengan kalian, wahai orang – orangku, bagaimana pun kalian adalah teman senasib sepenanggungan dalam tahun – tahun peladangan kita. Karena itu aku akan memberi kalian hukuman yang dikatakan ringan dia-nya berat, dikatakan berat mengerjakannya ringan.” Pengikutnya saling pandang. 

“Kalian boleh menolak, dan aku akan menghukum kalian lebih berat atau kalian menerima namun dengan syarat apabila kalian tak mampu mengerjakannya, kalian dan keturunan kalian akan menjadi ulunku, menjadi hambaku, seumur hidup. Bila kalian sanggup, kalian boleh pergi dariku, Bagaimana?” Siak memberikan kesempatan kepada para pengikutnya untuk berpikir, lalu yang paling tua diantara mereka berkata; 

“Kami terima hukuman dikatakan berat namun ringan, dikatakan ringan namun berat, dan berjanji apabila kami tak mampu mengerjakannya, kami akan menjadi hamba Raja seumur hidup demikian pula anak keturunan kami” 

“Maka kerjakanlah hukuman kalian; Pertama, persembahkan padaku nasi yang berasnya halus, beras itu asalnya dari padi yang tidak boleh ditumbuk apalagi dikisar.

Kedua, Nasi itu mestilah dimasak di dalam buluh, berasnya disusun rapi, yang membujur sama membujur, yang melintang sama melintang.

Ketiga, Kalian tangkap ikan jujung, tetapi sisiknya mesti dibuang, tak boleh tinggal sedikitpun.

Keempat, Buluh tempat masak nasi dan ikan jujung itu tak boleh layu sedikitpun selama terkena api.” Titah Raja Siak itu didengar oleh para pengikutnya dengan hati – hati, namun tiap perkataan yang diperintahkan semakin membuat mereka bingung setengah mati. 

“Bagaimana beras lahir dari padi yang tak ditumbuk dan dikisar, bagaimana menyusun beras halus sebujur dan selintang, bagaimana pula menyisik ikan jujung hingga bersih seluruhnya, dan bagaimana buluh tidak layu terkena api?” seorang pengikut yang sedari tadi mewakili bicara berkata seakan hanya untuk dirinya sendiri. Pengikut yang lain mengangguk – angguk ikut berpikir, namun semakin dipikir semakin bertambah sulit hukuman itu. 



“Atau kita menyerah saja?” tanya salah seorang dari mereka. 

“Iya, dari pada kita mati dibunuh” kali ini seorang pengikut perempuan bersuara. 

“Lagipula, tak buruk menjadi hamba Siak, bukankah setahun ini kita telah berkampung dengan mereka? Kalau bukan karena kesalahan kita, tak mungkin kita dihukum.” Kata Pengikut yang rambutnya telah memutih. 

“Adapun kelak nanti ada adat persembahan raja, anggaplah itu menolong raja. Apabila nanti kita diminta membayar pepeti, kita minta ganti dengan apa yang kita sanggupi” lanjut pengikut tua itu. 

“Maka bulatlah keputusan kita, kita akan menjadi hamba Siak seumur hidup, hukuman ini tandanya Raja berkasih sayang pada kita. Sesungguhnya Raja tak mau kita tinggalkan.” Tak ada satupun dari pengikut Siak yang berlainan pendapat, merekapun menghadap Raja kembali. 

“Memang itulah yang kuinginkan, kita telah seiring sejalah bertahun – tahun, bagaimana mungkin setelah sekian lama aku akan menjadikan kalian hamba di bawah kakiku. Namun karena demikian perkataan kalian, maka aku akan mewujudkannya. Maka dengarkanlah titahku” Suara Siak menggelegar, para pengikutnya menunduk sujud dalam, Siak melanjutkan titahnya; 

“Mulai saat ini, hidup kalian akan kuatur dengan hukum dan adat. Pepeti kutuntut tiap kalian panen, buat kita makan bersama. Persembahan kalian kuambil sebagai pertolongan pada Raja.” Lelaki itu duduk di kursi kayu yang disediakan oleh Mambang Parungkang, disapukannya pandang pada seluruh pengikutnya, ditariknya nafas dalam, lalu ia berkata lantang; 

“Dan Sejak saat ini, panggillah aku dengan sebutan Siak Bahulun, Negeri ku terhampar tujuh tangga tanah, Pupuk Tagua Tanah Tarah, negeriku negeri Ulu Aik!!!” 



Mulai hari itu Siak digelari Siak Bahulun Raja Ulu Aik. Bahulun artinya yang memperhambakan rakyatnya atau yang menjinakkan hati rakyatnya. 

Pesta penobatan Siak Bahulun diadakan di kampung Pupuk Tagua Tanah Tarah, para Raja negeri bawahan datang menghadiri pesta itu. Juga datang utusan dari Istana Tanjung Pura di Hilir memberikan restu atas penobatan Siak Bahulun.

Di tengah – tengah pesta, seorang penjaga datang membawa berita, di pelabuhan milik raja tersangkut sebuah rakit bambu betung, isinya seorang perempuan hamil tua dan enam anak perempuannya.

Siak Bahulun segera turun dari singgasananya, diiringkan Ratu Todung Rusi, Nek Dukun dan para pengawal, Sang Raja menuju sungai tanpa tahu siapa yang dijemput dan tak tahu akan menjadi apa kelak para penumpang rakit buluh betung itu. 

***

Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar