Pada tahun 2012, tepatnya pada 22 Mei, setelah Subuh, Agus Kurniawan mulai menulis fragmen perang berjudul "Laskar Sungai Limat," yang kemudian mendapatkan tanggapan positif. Tulisan ini berkembang menjadi rangkaian cerita di Grup CBMKB dan Jaringan Sastra Kalbar pada Oktober 2013.
Puncak pencapaiannya terjadi pada 13 Desember 2013, ketika Agus Kurniawan menerbitkan novelnya yang berjudul "Kedang: Di Seberang Matahari 1914." Novel ini mendapatkan respons luar biasa dan menjadi viral, mencapai kesuksesan besar dalam penjualan.
Tahun 2014 menjadi momentum penting, di mana novel "Kedang 1914" menjadi tema bedah buku di kalangan siswa dan mahasiswa di Ketapang. Hal ini juga menjadi awal dari gagasan peringatan Hari Juang Ketapang, dimulai dengan peringatan 100 tahun pertempuran Sungai Limat pada 22 Mei 2014.
Antara tahun 2016 hingga 2018, "Kedang 1914" masuk ke dalam koleksi Library of Congress of America. Agus Kurniawan juga aktif dalam mensosialisasikan nilai sejarah melalui seminar-seminar kebudayaan dan pameran karya, seperti Ketapang Expo 2017, bersama Masyarakat Pencinta Sejarah Tanjung Pura Ketapang.
Pada tahun 2019-2020, Agus Kurniawan melakukan ziarah ke makam Tentemak dan Uti Usman, serta menerbitkan buku berjudul "Berita dan Cerita Sejarah."
Tahun 2021-2022 ditandai dengan upaya bersama masyarakat Tumbang Titi dalam menggagas Ziarah Akbar untuk memperingati jatuhnya Benteng Kedang setiap 19 Juni, yang merupakan peringatan Perang Tumbang Titi 1914. Bersama PLK dan Gradas, mereka mengarusutamakan tema "Han Jang Ketapang."
Pada tahun 2023, Agus Kurniawan memegang peran sebagai Ketua IV dalam Kepanitiaan Napak Tilas Ketapang 2023, dan sekaligus sebagai Produser dalam pementasan Opera Perang Kedang 1914. Selain itu, ia juga menerbitkan novel berjudul "Kusuma: Percik Api Perlawanan," yang merupakan prekuel dari novel "Kedang 1914."
Sepuluh tahun telah berlalu sejak terbitnya novelnya, dan Agus Kurniawan merayakan perjalanan yang luar biasa ini. Novel "Kedang: Di Seberang Matahari 1914" telah menjadi tonggak penting dalam gerakan sejarah dan kebudayaan Tanah Kayong. Meskipun perjalanan penuh tantangan, lukanya terlalu dalam, Agus Kurniawan memilih untuk memaafkan dan terus menyebarkan warisan ini untuk generasi mendatang.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar