Pages

Madrasah Islamiyah Mataniyah, Pendidikan Islam pertama di Ketapang



Di perairan sungai Pawan, sekira di depan Masjid At Taqwa, Desa Kauman, ada sebuah tiang yang berdiri. Tiang itu adalah sisa dari Masjid Kerajaan Matan Negeri Tanjungpura. Di dekatnya pernah berdiri sebuah sekolah yang disebut Madrasah Islamiyah Mataniyah.

Madrasah Islamiyah Mataniyah atau MIM adalah pelanjut tradisi pendidikan Islam yang berkembang pada Masa Kesultanan Tanjung Pura. Madrasah Islamiyah Mataniyah merupakan ‘fasilitas’ tambahan dari Masjid Jami’ Kerajaan Matan Mulia Kerta.

Kerajaan Matan Mulia Kerta adalah kelanjutan dari Kesultanan Tanjung Pura yang berubah status dari Kesultanan menjadi Kepanembahan (kerajaan) ditandai dengan pemindahan pusat kekuasaan dari Tanjungpura ke Mulia Kerta. Di Tanjungpura sendiri terdapat Madrasah—saat itu disebut Madrasah namun sistem pengajarannya seperti Universitas Islam saat ini—Al Maghribi oleh Syekh Al Magribi saat pemerintahan Sultan Zainuddin II (berkuasa 1833—1845).

Adalah Panembahan Al Hajj Muhammad Tsabran bin Sultan Zainuddin II yang berkuasa kurun 1876—1909 yang meresmikan pembangungan Madrasah tersebut bersamaan dengan peresmian Masjid Jami’ Matan yang diperkirakan berdekatan dengan pemindahan pusat kekuasaan Kesultanan Tanjung Pura ke Mulia Kerta pada 1876.

Masjid Jami’ At Taqwa sendiri merupakan hasil permintaan seorang tokoh kampung Kaum yang bernama H Muhammad Ali Bergelar Datuk Kaya Laksamana Setia Raja agar pendirian Masjid Kerajaan berada ditengah – tengah Kampung Kaum yang memang terkenal banyak ulamanya saat itu. Madrasah Islamiyah Mataniyah ini kemudian menjadi penghasil ulama – ulama yang berilmu agama tinggi dan dikenal tak hanya seputar Kerajaan Matan tapi juga ke negeri sekitarnya.

Walau tak diketahui data – data alumni Madrasah ini. Namun catatan tentang orang terpelajar asal Negeri Matan (Ketapang hari ini) dalam masa berdirinya Madrasah Islamiyah Mataniyah masih dapat ditelusuri. Sebagai contoh adalah H. Abdul Samad bin Saleh yang meneruskan pendidikan ke Makkah, beliau tidak lagi kembali ke Matan. Atas ajakan H. Yusuf Saigon mendirikan Madrasah Saigoniyah di Negeri Pontianak pada 1925.

Ulama lainnya yang berasal dari Negeri Matan atau Ketapang adalah KH. Mochtar Nasir. Pada usianya yang ke enam puluh tahun beliau diangkat Menteri Agama Munawir Sadzali sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal pada 1985. Lulusan Darul Ulum Qismil Ali Makkah ini sempat juga menjabat kepala Kanwil Departemen Agama DKI Jakarta. Ilmu Agamanya yang tinggi ditambah Cengkok dan logat bahasa Arab-nya amat jelas dan khas menjadikan beliau Ulama yang disegani saat itu. Beliau telah berpulang ke rahmatullah pada tahun 2004.

Mualim Haji Ali Usman adalah tokoh pengusul pemindahan Masjid Jami’ Matan yang saat itu sudah terkena Abrasi Sungai Pawan ke arah darat serta mengganti nama masjid tersebut dengan nama Masjid Jami’ At Taqwa. Beliau bersama – sama Ibrahim Badjuri pernah mengadakan penelitian sejarah Kerajaan Matan sebagai bahan ajar untuk Sekolah Menengah Islam yang didirikannya pada 1948. Tak lama Muallim Haji Ali Usman berserta keluarga pindah ke Makkah untuk mengajar ilmu hadits di Madrasah Darul Ulum yang didirikan oleh Syekh Muhammad Yasin Bin Muhammad Isa Al-Fadani seorang Ulama Hadits terkemuka kelahiran Makkah keturunan Padang. Beliau dimakamkan di Bandung tempat tinggal anak – anaknya.

Madrasah Islamiyah Mataniyah sebagaimana ‘induknya’ Masjid Jami’ Matan sudah tidak tampak lagi dimata kita. Abrasi sungai Pawan meluluh lantakkan bangunan tua itu hingga generasi hari ini kehilangan kenangan akan kehebatan sebuah lembaga pendidikan Islam di masa lalu yang mampu menghasilkan ulama, cendikia serta kaum terpelajar di daerah ini.

Demikianlah, artikel ini merupakan rintisan bagi penelitian sejarah pendidikan di bumi kayong ini. Masih banyak ulama besar dan guru baik yang berasal dari Tanah Kayong sendiri maupun dari daerah lain yang berjasa mengembangkan pendidikan di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara ini. Semoga penulis – penulis lain berkenan untuk memperbaiki artikel ini maupun menyambungnya. Semoga.

Sumber Tulisan dan Foto : Feature PontianakPost seri Mengenal Masjid-Masjid Tertua di Ketapang oleh Marote.

 


Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar