Pages

Syair Perang Kedang 1914



Bismillah itu disebut pada permulaan
Beriring hamdalah ucap kesyukuran
Memanjatkan doa dan pengharapan
Semoga syair ini dihitung amal peribadatan

Terkembang larik dari benak perasaan

Terkenang hikayat dalam kisah perjuangan

Merungkai sejarah kampung halaman

Dengarlah Syair Perang Kedang sebagai kengkarangan


Di Tumbang Titi mula kejadian

1914 tahun dalam catatan

Tercatat dalam berita koran sezaman

Uti Usman memimpin perlawanan


Di Kedang berkumpul para tokoh ternama

Dari bekas negeri kesultanan matan nan mulia

Akibat marwah diusik penjajah belanda 

Blasting dipungut dengan penuh hina


Dari Marau datang pasukan Daeng Uti

Dari Pebihingan Raden Johari dan Tentemak kawan sejati

Menumpang perahu datang para pemberani

Dari seluruh negeri Bak menuba tak hiraukan mati


Pasukan penjajah berkumpul di abut bekake

Berjalan lagak menyandang senjate

Dipimpin kapten brans di muke

Masuk ke dalam hutan tiade waspade


Di sungai limat sudah ditunggu

Diatas temparaan seperti berburu

Penembak ulung berempat puluh

Mendengar komando Raden Johari hendak menyerbu


Kapten belanda terkapar seketika

Pelor senapang Raden Johari menembus dada

Saling bergilir dengan Tentemak nan perkasa

Balasan tembak belanda tak mempan di guris laksamana


Tentemak turun menjemput petaka

Hendak mengerjakan tugas Uti Usman yang utama

Menghunus parang mencari kepala

22 Mei 1914 Tentemak wafat sebagai syuhada


Belanda mundur, pejuang mengejar

Namun tak mampu menghabiskan sampai ke akar

Tentara Belanda sudah banyak belajar

Dari laman melayu pasukan KNIL membalas hajar


Natai Beduk tempat perlawanan kedua

Belanda mengejar henti tiada 

Rakyat pebihingan melawan seminggu, Belanda hampir berputus asa

Namun semua dikalahkan strategi dan senjata


Daeng Uti di bakung juga dikalahkan

Mambuk pula dapat ditundukan 

Di Tumbang Titi Uti Mahmud dirobohkan

Kedang masih kokoh walau tinggal bertujuh yang menjagakan


19 Juni 1914 waktu pamungkasnya

Pasukan Belanda mengepung Kedang dengan sepenuh tenaga

Tujuh Penjaga bertempur semuanya

Uti Usman berdiri tegak seakal daya


Kumandang takbir azan penghabisan

Pelor emas menembus lapisan

Utar - Utar pecah dalam genggaman

Paduka Uti Usman wafat dalam kemuliaan


Tujuh pengawal dalam kesyahidan

Termasuk Tahir adik Tentemak yang terkorban

Kedang jatuh namun perlawanan tak mudah dipadamkan

Terus bergelora sampai ke anak keturunan


Azan Uti Usman memanggil segenap jiwa

Untuk berjuang sepenuh raga

Marwah jatuh, bak hidup nyawa tiada

Mati Berkalang tanah tentulah lebih mulia 


Demikianlah syair diakhiri

Tentang Perang Kedang yang diketahui

Berdasar cerita dan berita serta informasi

Kembali semua kepada sang Maha Mengetahui


Demikianlah madah ditulis reka

Kengkarangan dari mata yang menolak lena

Mengingat pengorbanan Uti Usman dan para pejuang yang mulia

Untuk Ketapang kita yang berjaya.

























Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar