Pages

Sejarah dan Legenda Kerajaan Tanjungpura: Menelusuri Jejak Para Datuk dan Tuk



Sebelum dikenal sebagai satu dari tiga kerajaan yang membagi kalimantan, keadaan Kerajaan Tanjungpura di awal waktu mungkin sekali bukanlah apa yang kita bayangkan selama ini tentang sebuah 'Kerajaan'. 

Bahkan penduduknya mungkin tidak menggelari pemimpin mereka dengan gelar Raja. Karena itu Kerajaan pun bisa jadi tidak ada. 

Dari banyak cerita rakyat yang beredar, kita bisa ambil garis merah (atau biru atau kuning, terserah 😁) bahwa masyarakat menyebut pemimpin mereka dengan gelar 'Tuk' dari Datuk. 

Pemimpin yang terekam dalam ingatan kolektif masyarakat hingga dianggap nenek moyang orang di bumi kayong ini adalah Tuk Upui, beliau membuat pusat pemukiman di Natai Kemuning dalam aliran Sungai Pawan.

Pemimpin lainnya adalah Tuk Bubut, rekaman tentang beliau lebih kaya. Awalnya beliau bergelar Patih (bawahan Raja/Datuk), yang melakukan perjalanan (atau penaklukan?🤔) melintasi Gunung Kinabalu di utara, wilayah - wilayah Iban, kepulauan Sukadana hingga membuat batu Titi di Kendawangan. Kemudian ia menuju Natai Kemuning dan mulai menjadi Datuk di sana. Tuk Bubut Begelang Benang julukannya.

Para saudaranya menyebar di banyak tempat, yang terkenal berada di Sukadana; Nek Takon dan Nek Doyan di alur gunung Gong, Siduk.

Masalah gelar Nek, mungkin dari Nenek atau Nik, ini pun perlu pembahasan kembali. Karena di Sambas gelar ini pernah dipakai oleh pemimpin lelaki pada abad 13/14.

Legenda Nek Bagu' juga tersebar di perhuluan pawan. Apakah ia gelar bagi saudara Datuk yang menjabat semacam Raja bawahan?

Dari mana datangnya gelar Datuk? Kita bisa merujuk pada gelar yang sama di prasasti peninggalan Sriwijaya, ada istilah Kadatuan yang seiras dengan Kerajaan.

Bahkan nama salah satu bagian dari pakem kompleks Istana Jawa yang merupakan rumah bagi keluarga Raja disebut Kedathon, akar katanya sama dengan Kadatuan Sriwijaya. Nama lain Pararaton,bkitab rujukan sejarah Raja Jawa juga disebut Kitab Para Datuk, sesuai yang ditulis penulisnya di bagian penutup. 

Kini kita pahami karena proses peralihan bahasa; Kedhaton menjadi Keraton, Para Datuk menjadi Pararaton.

Jadi jangan bayangkan dulu Tanjungpura awal sebagai kerajaan dengan istana batu dengan raja berkopong/mahkota emas.

Para datuk itu bisa jadi berumah kayu tinggi, ikut berladang & mencari ikan pula. Bukankah kita penganut kesetaraan sejak mula?

Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar