ته هدڤ، ته منڠڬلكن
تهمتي، تهمورسكن
Tahu hidup, tahu meninggalkan
Tahu mati, tahu mewariskan
Demikian satu pasal yang dikandung dalam Pakaian Dua Puluh Lima Melayu. Sekumpulan perihidup bangsa melayu.
Satu pandangan, hasil pengalaman, pewarisan kearifan. Agar tak terbiar.
Tahu hidup, tahu meninggalkan. Nasehat utuk berjimat mempersiapkan hari esok. Jangan makan macam ayam, kata orang tua. Apa yang ada habis hari itu pula.
Secara lebih ringkas, orang melayu tanah kayong sering menyampaikan nasehat "tebiat usah di-abiskan bujor, tetinggale anak cucuk".
Hidup Mesti tahu bersimpan, mesti tahu berjimat. Agar besok beras di pedaring tak sampai kering. Agar masih mampu tenaga bekakas kikis. Dengan bekal yang tersisa dari hari semalam.
Juga, biar ingat, hidup pasti lah mati. Tak ada manusia yang menjadi tongkat langit. Kalau sadar akan mati, sadar pula mesti mewariskan.
Sadar, bahwa mesti mempersiapkan anak cucu yang salih dan salihat, serta berbakti, agar mampu mendoakan, agar mampu melanjutkan perjuangan.
Agama, Ilmu, Harta, perlu dipersiapkan untuk diwariskan. Agar anak keturunan tak lemah.
Kalau lemah, lemah iman, lemah ilmu, lemah pula tenaga. Bisa jadi anak keturunan kita, bukan menambah berkah, malah mendatangkan musibah. Mungkin saja, bukan menaikkan marwah, malah memuramkan wajah.
Tapi apa yang mau disimpan, sedang makan hari ini pun belum cukup. Tapi apa yang mau diwariskan, bila yang dijaga saja sudah habis.
Beramal Salih, berbuat baik, membaikkan, mengerjakan hanya kebaikan. Itu saja yang kita kerjakan. Sesuai kesanggupan masing - masing.
Mudah - mudahan menjadi bekal yang baik untuk besok dan warisan yang kekal sampai tujuh turunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar