Pages

Tuk Upui Dan Tuk Bubut, Nenek Moyang Orang Tanah Kayong Ketapang


Bayangkanlah, Pulau Delta Pawan saat itu belum terbentuk, yang ada hanya teluk besar lautan tempat buih bersarang. Bayangkanlah Pasir – pasir Negeri Baru adalah pasir pantai berlaut asin dan ber-ikan gembung bukan Sungai dan ber-ikan baung. 

Nah, sudah kau bayangkan? Lalu dari peta bayangan mu itu, kau hapus bagian Sungai Awan Kanan dan Kiri hingga tersisa Desa Muara Kayong. 

Ya, begitulah dahulu sebelum Tuhan menentukan alam membentuk daratan Sungai Awan dan Pulau di tengah sungai Pawan yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Ketapang.

Dahulu, di tanah berpasir pantai yang lautnya asin itulah para pendatang pertama ke Tanah Kayong menjejakkan kaki. Tuk Upui nama pemimpin mereka. Mengayuh jauh sampan jalurnya melepaskan diri dari kuasa Pohon kedondong Raksasa di muara teluk kawah. 

Menetaplah  dia di Natai Kemuning, sebuah tanah mungguk agak ke dalam sedikit dari Muara. Berlindung dari angin laut. Bertanam Padi  dan berkembang biaklah mereka, hingga membuat peradaban sederhana, berpusat pada Tuk Upui dan keturunannya. Inilah proto melayu; budayanya sudah ada namun belum mapan, dan masih nomaden walau tetap berpusat di Natai Kemuning.

Kemudian, datang lagi kelompok yang kedua berpuluh atau bahkan beratus tahun kemudian, mendatangi Pulau Sukadana yang masih terpisah dari Daratan Gunung Palong. 

Namun, mereka belum lagi puas. Dari para suku pengembara laut mereka mendengar ada sebuah pulau lagi di seberang sebelah kiri matahari mati, pulau yang indah, pulau penuh sawah. 

Maka Tuk Bubut, kepala rombongan itu bersama adik – adiknya, Nek Takon dan Nek Doyan meneruskan perjalanan. Disusurinya lagi pesisir Pulau mencari jalan menuju Jawa Dwipa, si Pulau Padi.

Kendawangan belum terbentuk dan masih berlaut – laut, namun kira – kira di sekitar itulah Tuk Bubut dan pengikutnya yang bergelang benang hitam merencanakan sebuah tindakan besar, mereka menyusun batu, hendak membuat penyeberangan ke Jawa. Batu Titi namanya.

Dan mereka gagal.

Akhirnya, mereka memutuskan kembali ke Sukadana. Tuk Bubut telah mendengar ada pemukiman di Natai Kemuning anak turun dari Tuk Upui. Ke sanalah dia menuju, membawa keturunannya. 

Nek Takon memilih masuk kedalam goa sebagaimana di tempat asalnya di pegunungan Indochina. Dipilihnya Goa di anak gunung Palong sebagai tempat bermukim. Hingga kini tak ada lagi yang bisa menemukan pemukiman pertama di Sukadana itu. 

Adik yang satu lagi, Doyan dan keluarganya memutuskan mencari lahan untuk bertanam padi. Dicarinya naik dan turun pegunungan Palong hingga bertemu sebuah laman berdekat Sungai kecil. Itulah Lamannya, Laman Nek Doyan. Kalau kau pergi Ke Sandai lewat jalan darat, kau akan melewati kampung itu.

Sementara Tuk Bubut telah pula mendapati anak turun Tuk Upui di Natai Kemuning, secara alami Tuk Bubut menggantikan anak turun  Tuk Upui.

Dari sinilah, dari Daratan Tinggi di hulu Sungai Pawan inilah cerita berpisahnya dua peranakan besar bermula. Orang suku laut yang kini diidentifikasikan diri menjadi Melayu dan orang suku darat yang dikenali sebagai suku Dayak. Ceritanya berkelindan antara Kisah Alam dan Dongeng purba. Aku kan menceritakannya.


Agus Kurniawan

Pembaca yang menuliskan apa yang dibaca. Membaca dengan melihat, mendengar, merasakan tentang kampung halaman, masa lalu, kini dan akan datang. Peneliti Etnografis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar