Oleh: Agus Kurniawan
Ayuhai anakanda menteri budiman
Pangeran Syarif Abdul Rahman
Dengar ayahandanya empunya firman
Negeri Pontianak terlalu aman
Di dalam sungai tiada terbilang
Kapal sekunyar silang-menyilang
Ada yang datang ada yang pulang
Ada berlabuh ada berkalang
Setiap rumah ada jambang
Berbagai rupa bunga dan kembang
Di sana suka burung dan kumbang
Menentang kuntum fikiran bimbang
Demikian sedikit kutipan dari Syair Sultan Matan, seperti namanya, Syair ini ditulis oleh Sang Sultan Matan sendiri, yakni Panembahan Gusti Muhammad Tsabran. Syair ini juga disebut Syair Pangeran Syarif karena dipersembahkan oleh Gusti Tsabran kepada Pangeran Syarif Abdul Rahman, anak dari Sultan Pontianak saat itu. Panembahan Gusti Tsabran adalah yang memindahkan ibu kota kerajaan Matan dari Tanjungpura ke daerah Mulia Kerta saat ini. Syair yang bertarikh 27 Muharram 1313 bertepatan 7 Juli 1895 Miladiyah ini merupakan syair tertua yang pernah tercatat dari Tanah Kayong.
Di tanah Kayong (Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara) hampir setiap acara pernikahan, sunatan, perpisahan sekolah, seremonial desa dan kecamatan bahkan kabupaten selalu ada seseorang yang maju—entah perempuan atau laki – laki—ke panggung dengan membawa gulungan kertas. Lalu mengalun senandung syair dari mulutnya, isi syair itu bisa jadi adalah mengenai acara yang sedang berlangsung disertai sindiran juga kritikan. Orang – orang tanah Kayong terbiasa menyebut syair yang dibacakan itu sebagai syair gulung.
DR. Datuk Abdul Latif, sekretaris DMDI dalam Konvesyen DMDI di Melaka tahun 2005 mengungkapkan bahwa Syair Gulung sebagai sebuah sastra melayu yang masih tersisa di Kabupaten Ketapang (dan Kayong Utara-pen) sedang di tempat lain seni menyenandungkan syair dengan cara yang sama telah lenyap.
Menurut almarhum M.Dardi, D.Has, seorang begawan dalam bidang syair gulung serta penulis buku cerita sejarah Tanah Kayong, syair gulung telah dikenal sebagai kesenian orang melayu sejak zaman kejayaan kerajaan Tanjungpura. Para raja dan pangeran bahkan memiliki seorang penyair untuk menyenandungkan syair – syair pujian untuk dirinya. Hingga kemudian penduduk negeri mengikuti adat kebiasaan junjungannya.
Dalam perkembangannya, syair gulung di masyarakat menurut M.Dardi menjadi seni hiburan yang tidak lagi membatasi isi dengan pujian – pujian. Isi syair gulung yang menyebar dalam acara – acara rakyat lebih banyak bersifat jenaka, kritik terhadap keadaan sekitar hingga ejek – ejekan antar sesama penduduk. Seni rakyat ini kemudian terus bertahan meninggalkan seni istana yang hapus bersamaan dengan runtuhnya kerajaan.
Gusti Kamboja dalam pengantar buku kumpulan Syair Gulung 'Jangak' menulis bahwa dalam kehidupan masyarakat Ketapang, syair sudah merupakan bagian dari tradisi dalam memaknai sesuatu peristiwa atau kejadian baik dirinya, keluarganya, maupun alamnya. Bagi masyarakat Ketapang, syair merupakan ekspresi pikiran dan perasaan yang dituturkan dalam bentuk seni dan irama.
Lebih lanjut lelaki bergelar Pangeran Ratu Kertanegara itu juga menulis syair gulung adalah syair berirama yang dilantunkan penyair pada peristiwa-peristiwa tertentu yang ditulis di kertas kecil yang panjang dan digulung saat memulai atau selesai membacanya. Isi syair gulungan biasanya menceritakan kejadian tertentu. Pada baris pertama diawali dengan basmalah atau puji-pujian kepada Allah dan Rasullulah, kemudian pada bagian akhir syair ditutup dengan salam.
Syair gulung juga dikenal dengan sebutan 'kengkarangan' oleh masyarakat Ketapang. Artinya sesuatu yang dikarang. Juga disebut sebagai 'Syair Layang' karena isinya hanya selayang pandang. Namun nama syair gulung kemudian lebih dikenal dimasyarakat, sebabnya kertas berisi syair yang akan dibacakan itu selalu digulung dan digantung di puncak kekayun (tempat nasi dari kayu biasanya dihiasi bunga telur untuk antaran pernikahan/sunatan).
Tidak seperti karya sastra lainnya yang mengabadi secara isi, syair gulung bersifat temporer. Syair sekali pakai. Syair gulung untuk Agustusan tidak bisa dipakai untuk hari kebangkitan nasional. Syair gulung buat perpisahan SMAN 1 tidak bisa digunakan (tanpa diubah) untuk SDN 7. Syair gulung pernikahan Ali dan Rapeah tidak bisa untuk sunatan Rajuli.
Namun dalam kekinian banyak penyair – penyair muda tanah kayong seperti Rudi S (dalam bentuk buku) yang berupaya mengabadikan momen, suasana hati serta kehidupan dalam bentuk syair gulung. Dalam keadaan ini bisalah dikatakan mereka sedang membuat syair dengan tehnik baca syair gulung, dengan kata lain syair gulung hanyalah sebatas media penyampaian.
Hal tersebut bisa saja terjadi karena penyair syair gulung tidak pernah belajar secara khusus kepada penyair sebelumnya. Tak ada pakem tertentu dalam membuat syair gulung, asal bisa indah dibaca dan masuk lagunya (yang berima a-a-a-a) maka bisa disebut syair gulung.
Tentu saja kita harus mengatakan syair gulung yang demikian itu sebagai syair gulung kontemporer untuk membedakan dengan syair gulung tradisional yang habis sekali pakai itu. Bakat dan keterampilan penyair timbul dengan sendirinya, terasah oleh waktu dan mengalir bersama pengetahuan yang semakin bertambah.
Berbeda lagi jika kita ingin melantunkan syair, sipelantun biasanya harus belajar teknik melantunkan syair, pengaturan nafas dan terutama lagu kepada pelantun yang lebih senior. Nama penyair senior Mahmud Mursalin seorang Guru SMPN 1 Ketapang tentu saja adalah rujukan terutama saat ini, tentu saja masih ada nama – nama lain.
Syair gulung adalah kesenian melayu yang masih terus bertahan di tengah gerusan zaman. Kita memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan serta mengembangkan ke arah yang lebih baik. Publikasi – publikasi baik secara perorangan dan kelompok, online maupun cetak perlu dilakukan agar kebudayaan kita tak lekang oleh waktu. Penyair muda Supardiansyah telah memberikan contoh kepada penyair lainnya dengan cara mengunggah beberapa video pembacaan syair gulung ke Youtube dan menyebar di media sosial.
Masih banyak pekerjaan dalam pelestarian budaya. Jangan sampai kita lelap budaya, dan baru terbangun ketika banyak orang mengaku bahwa budaya itu milik mereka. Untuk contoh – contoh syair gulung silahkan Googling dengan kata kunci penulis syair gulung.
Salam. Berikut Salah satu contoh Pembacaan Syair Gulung oleh Muhammad Abrar, juara dalam pembacaan Syair Gulung anak dari bapak Mahmud Mursalin.
https://youtu.be/UJ02W8JoTWI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar